PENULISAN TANDA BACA MENURUT EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

PENULISAN TANDA BACA MENURUT EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
1. Pendahuluan
Saat ini banyak orang yang masih salah dalam penulisan tanda baca, untuk itu kami mengangkat tema PENULISAN TANDA BACA MENURUT EJAAN YANG DISEMPURNAKAN. Di dalam penulisan banyak terdapat aspek yang perlu diperhatikan. Aspek-aspek itu akan kami ulas dalam makalah ini. Banyak aspek yang harus diperhatikan dalam sistem penulisan tanda baca seperti tanda petik, tanda petik tunggal, tanda garis miring, dan tanda penyingkat atau apostrof. Oleh karena itu setiap melakukan penulisan tanda baca harus memperhatikan hal-hal tersebut, jadi tidak menjadikan asal tulis saja, tetapi sudah mengikuti aturan yang sudah ada yaitu ejaan bahasa Indonesia (EYD) Yang telah dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah.

Rumusan masalah yang akan kami ulas adalah: Bagaimana menggunakan tanda baca petik yang benar, Apa fungsi tanda baca, dan bagaimana contoh tanda baca yang benar.
Tujuan penulisan makalah ini adalah membantu pembaca untuk memahami penggunaan tanda baca yang benar. Dan memenuhi tugas dari dosen serta sebagai pembelajaran mahasiswa stikes St. Elisabeth.
2. Penulisan tanda petik, tanda petik tunggal, tanda garis miring dan tanda penyingkat atau apostrof
2.1 Tanda petik (“ ”)
2.1.1 Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, bahan tertulis lain.
Misalnya :
• Ibu berkata, “Paman berangkat besok pagi ”
• “Saya belum siap,” kata dia, ”tunggu sebentar!”
2.1.2 tanda petik digunakn untuk mengapit judul puisi, karangan, bab atau buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya :
• Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 5 buku itu
• Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia ” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
• Bacalah “Penggunaan Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
• Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetetif” menarik perhatian peserta seminar.
2.1.3 Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus
Misalnya :
• Perkerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
• Dia bercelana panjang yang dikalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”
2.1.4 Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya : kata dia, “Saya juga minta satu.”
2.1.5 Tanda baca penutup kalimat atau baguian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya :
• Bang komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tau sebabnya.
• Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan “Si Hitam”
2.1.6 Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi disebelah atas baris.
2.1.7 Tanda petik (‘’) dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda. (sama dengan atas) atau kelompok kata diatasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar. Misalnya :
• Zaman bukan jaman
• Asas “ azas
• Plaza ‘’ plasa
• Jadwal ‘’ jadual
• Bus ‘’ bis
2.2 Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)
2.2.1 Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain. Misalnya :
• Tanya dia, “Kau dengar bunyi ‘kring kring’ tadi?”
• “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika, ” ujar Pak Hamdan.
2.2.2 Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan. Misalnya:
• Terpandai ‘paling’ pandai retina ‘dinding mata sebelah dalam mengambil langkah seribu ‘lari pontang panting’ ‘sombong, angkuh’
2.2.3 Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
• Feed-back ‘balikan’
• Dress rehearsal ‘geladi bersih’
• Tadulako ‘panglima’
2.3 Tanda Garis Miring (/)
2.3.1 Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.
Misalnya:
• No.7/PK/2008
• Jalan Kramat III/10
• Tahun ajaran 2008/2009
2.3.2 Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau,tiap dan ataupun.
Misalnya:
• dikirimkan lewat darat/laut
• ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’
• harganya Rp 1.500,00/lembar
• ‘harganya Rp 1.500,00 tiap lembar’
• Tindakan penipuan dan/atau penganiayaan
‘tindakan penipuan dan penganiayaan,tindakan penipuan,atau tindakan penganiayaan’
Catatan:
• Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan-penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah.

2.4 Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
• Dia ‘kan sudah kusurati. (‘kan = bukan )
• Malam ‘lah tiba. (‘lah =telah)
• 1 Januari ’08 (‘08=1988)

3. Penutup
Dari makalah yang kami tulis, disimpulkan bahwa dalam penulisan tanda baca tidak boleh sembarangan. Dalam menulis tanda petik, tanda petik tunggal, tanda garis miring dan tanda peningkat memiliki aturan atau cara seperti yang kami jelaskan diatas dan harus mengikuti pedoman yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Laksami. Wijaya.2009.EYD (Ejaan yang Disempurnakan) Depok-Jawa Barat: Penerbit Pustaka Makmur

Dra.Rini Utami. Sintowati.1987. Bahasa Indonesia Untuk Keperawatan. Sunter Agung Podomoro Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s